Hari Pertama Tahun Baru 2025
15.21Malam pergantian tahun berlalu begitu saja, tanpa iringan hujan yang kerap menandai awal Januari di tahun-tahun sebelumnya. Pagi ini, atau mungkin sudah siang jika jam sepuluh masih dianggap pagi, aku terbangun. Suara ayam, entog, dan soang membentuk orkestra alam yang tak pernah berlatih, berpadu dengan gemerisik dedaunan yang dimainkan angin. Udara terasa kosong, tetapi tidak sepenuhnya sunyi—seperti dunia sedang mengambil jeda kecil setelah keramaian semalam.
Teman dari Madiun, mas-mas yang semalam berbagi cerita denganku, sudah berkemas dan kembali ke kampung halamannya. Barangkali ia menyerah pada kota ini, atau mungkin ia hanya merindukan rumah lebih dari yang berani ia akui. Ketika pintu menutup di belakangnya tadi dini hari, ada sesuatu yang terasa berubah—bukan kehilangannya, tetapi pergeseran halus di udara, seperti sesuatu telah dilepaskan.
Aku menyeret diri ke kamar mandi, melakukan segala sesuatunya dengan seadanya. Tak ada yang benar-benar perlu kuselesaikan pagi ini. Setelah itu, aku memesan seporsi Indomie rebus tanpa tambahan apapun. Sederhana, bahkan sedikit menyedihkan, tapi cukup untuk memastikan aku tetap berdiri hingga sore nanti. Di sudut meja makan, mangkuk berisi Indomie teronggok sementara aku memeriksa ponsel. Pesan-pesan masuk di WhatsApp, tapi tidak ada yang cukup mendesak untuk membuatku tergugah.
Salah satu pesan datang dari seorang mahasiswa, bertanya tentang arah tugas akhirnya yang mulai buntu. Aku membaca pesan itu sekilas, lalu mengabaikannya. Barangkali aku akan membalas nanti, atau mungkin tidak sama sekali. Di luar, Vespa tua milikku berdiri di pekarangan, di bawah bayang pohon jambu yang mulai meranggas. Joknya yang sobek menjadi singgasana sementara bagi seekor entog jantan. Dengan angkuhnya, entog itu menyemburkan kotoran di atas jok hitam yang sudah lama kehilangan fungsinya. Aku hanya tersenyum tipis. Entog itu hidup bebas tanpa khawatir, seperti simbol dari sebuah keberanian yang tak pernah kumiliki.
Aku termenung sejenak, memperhatikan pemandangan kecil yang anehnya terasa akrab. Hari ini, pikirku, mungkin tak akan jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Aku bertanya-tanya, apa yang seharusnya kulakukan di awal tahun ini? Haruskah aku terus mengulang langkah-langkah lama yang sudah hapal di luar kepala, atau mencoba sesuatu yang baru?
Pertanyaan itu menggantung, tidak sepenuhnya terjawab, hingga ingatan dini hari tadi menyelinap kembali ke benakku. Ketika aku pulang dari mengantar teman Madiun itu ke terminal, sesuatu tiba-tiba muncul di pikiranku—sebuah nama. Nama itu muncul seperti bayangan yang lama bersembunyi di balik kabut.
Aira...
Aku mengucapkannya perlahan, hampir seperti sebuah doa yang dilafalkan dengan keraguan. Nama itu telah lama hilang, tersembunyi di sudut pikiranku yang tak pernah kusentuh. Kini ia kembali, berdiri tegak di hadapanku, menuntut untuk dikenali.
Aku tetap duduk di kursi makan, membiarkan Indomie yang mulai dingin di mangkuk, terlupakan. Nama itu menggema di kepalaku, membawa serta potongan-potongan ingatan yang mulai membentuk pola. Aira. Apa artinya ini? Mengapa nama itu muncul sekarang, di awal tahun yang baru? Apakah ini sebuah kebetulan, atau pertanda bahwa sesuatu sedang menunggu untuk ditemukan?
Di luar, angin bertiup sedikit lebih kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon jambu hingga menjatuhkan beberapa buahnya ke tanah. Entog jantan di atas Vespa tua berlari kecil mengejar entog betina yang muncul entah dari mana. Kehidupan terus berjalan, sederhana dan tanpa beban, sementara aku masih terjebak dalam pusaran pikiranku sendiri.
Nama itu tetap bergelayut di pikiranku, seperti sebuah pintu yang sedikit terbuka, memanggilku untuk melangkah masuk. Tahun ini, pikirku, mungkin akan menjadi sesuatu yang berbeda. Atau setidaknya, aku ingin percaya begitu.

0 komentar