Refleksi Tahun Baru 2025 - Sunyi

03.36

Tiga ratus enam puluh lima hari telah berlalu, seperti langkah kereta malam yang meluncur tanpa suara, hanya menyisakan gemuruh samar di kejauhan. Tahun 2024 melaju begitu cepat, seolah setiap detiknya adalah hela napas yang tak pernah sempat kutuntaskan. Kini, dalam keremangan kamar yang diterangi lampu kuning temaram, aku duduk seorang diri, mencoba menyusun kenangan yang terasa seperti kepingan kaca buram.

Segalanya melintas di benak seperti potongan mimpi yang separuh teringat, separuh terlupakan. Ada tawa yang sesekali menggantikan kesedihan, dan ada luka yang menyelinap diam-diam, meruntuhkan segalanya tanpa peringatan. Tapi entah mengapa, tak satu pun dari itu benar-benar melekat. Bahkan wajah seorang perempuan—yang dulu pernah menjadi pusat gravitasi hidupku—kini tak lagi mampu kuingat. Ia seperti angin yang berlalu, meninggalkan dingin tanpa bentuk. Aku menyebutnya “Sindrom Sherlock Holmes,” sebuah kebiasaan buruk menyimpan hal besar tapi melupakan detail yang mungkin penting.

Dan di sinilah aku malam ini, melewati pergantian tahun dalam kesunyian yang nyaris akrab. Kamar ini, dengan laptop yang menyala dan tumpukan kertas yang teronggok di sudut meja, menjadi ruang di mana waktu bergerak tanpa jeda. Proposal penelitian yang kusempurnakan selama seminggu terakhir telah menjajah setiap malamku, menunda tidur hingga pagi menyelinap dari celah jendela. Aku menyadari, hidupku kini seperti roda yang berputar dalam keteraturan dingin—modernitas yang menuntut tanpa memberi ruang untuk berhenti, bahkan di malam yang katanya layak dirayakan.

Cinta? Pertanyaan itu seperti lelucon murahan. Sejak kepergiannya, perempuan yang bahkan namanya kini mengabur di ingatanku, aku menjadi seseorang yang terfragmentasi. Ada ruang kosong di dalam diriku yang tak mampu kuisi, tidak dengan apapun. Aku akhirnya mengenali rasa ini: kehilangan yang terus menerus, seperti detak jam yang mengingatkan waktu yang hilang tapi tak pernah kembali. Mungkin inilah yang dirasakan mereka yang pernah kehilangan cinta sejati, dan kini aku bersahabat dengan kehampaan itu, hidup bersamanya tanpa benar-benar mencoba mengusirnya.

Sudah enam bulan aku tak pulang ke desa, tempat ayah dan ibu mungkin sedang merapal doa untukku dalam diam. Aku tahu mereka merindukanku. Aku tahu. Tapi ada sesuatu di dalam diriku yang membuat setiap langkah pulang terasa terlalu berat. Kesendirian di kota ini menjadi semacam ritual yang menenangkan sekaligus mengerikan. Waktu di sini mengalir seperti sungai tanpa muara, membawa serta hal-hal yang dulu penting hingga akhirnya menjadi tiada. Pernahkah kau merasakan hidup seperti ini? Kau bergerak, tapi tidak ke mana-mana. Kau ada, tapi tidak benar-benar ada.

Di minggu-minggu terakhir 2024, sedikit warna menyelinap dalam rutinitasku. Aku mendapati diriku menjadi mentor untuk beberapa mahasiswi yang tersesat dalam tugas akhir mereka. Dalam kebingungan mereka, aku menemukan kehangatan yang sederhana. Terkadang aku bahkan tertawa—sebuah hal yang terasa asing tapi menyenangkan. Dan seperti eksperimen aneh, aku mencoba aplikasi kencan. Beberapa percakapan terjadi, beberapa janji bertukar, tapi semuanya seperti embun pagi yang menguap sebelum sempat benar-benar terasa nyata.

Apa yang kuinginkan untuk 2025? Harapanku sederhana. Mungkin aku hanya ingin bisa mengingat nama perempuan itu. Nama yang dulu pernah menghancurkan sekaligus menyusun ulang hatiku, meski dalam bentuk yang tak sempurna. Jika aku bisa mengingatnya, mungkin aku akan menemukan cara untuk berdamai dengan masa lalu, membuka pintu menuju sesuatu yang baru. Tapi jika tidak, aku akan tetap di sini, diam dalam kamar yang semakin tua bersamaku. Waktu, bagiku, adalah arus yang tak pernah berhenti. Tapi ke mana ia membawaku, aku tak pernah tahu.

Dan mungkin, aku tak perlu tahu.


You Might Also Like

0 komentar