Kehilangan

01.21

Kapan pertama kali aku merasa kehilangan? Pertanyaan itu muncul tiba-tiba, seperti suara pelan yang memecah keheningan di dalam kepalaku. Malam ini, seorang teman kehilangan motornya. Dicuri, katanya. Hilang begitu saja, seperti bayangan yang lenyap saat lampu padam. Kami duduk diam di beranda, hanya ditemani suara jangkrik dan udara malam yang sedikit lembap.

Kehilangan motor jelas menyakitkan, tapi aku tahu bahwa kehilangan yang pertama kali kurasakan jauh berbeda. Aku mencoba mengingat, menggali ingatan lama yang mulai kabur. Nama seseorang melintas di pikiranku, samar, seperti tinta yang hampir pudar di atas selembar kertas tua. Dede, mungkin? Ya, Dede. Kami bertemu di awal tahun 2000-an, ketika hidup masih sesederhana memilih jalan mana yang akan dilalui sore itu.

Aku ingat betapa aku menantikan setiap kesempatan untuk berpapasan dengannya. Kadang aku berjalan santai di sore hari, kadang aku bangun lebih pagi hanya untuk lari subuh. Tidak ada yang kukatakan kepadanya. Aku hanya ingin melihatnya lewat, menyimpan bayangannya untuk menemani hariku yang panjang. Tapi kemudian, dia menghilang begitu saja. “Dia pergi ke Saudi,” kata seseorang, “jadi TKW.” Dan hanya itu. Kehilangan pertamaku datang seperti gelombang yang tenang—tidak mengejutkan, tapi perlahan menyakitkan.

Tentu saja, itu bukan yang terakhir.

Aku ingat seorang perempuan lain, yang sempat menjadi pacarku—jika hubungan itu bisa disebut seperti itu. Kami jadian lewat BBM, percakapan singkat yang lebih terasa seperti formalitas daripada ungkapan perasaan. Enam bulan berlalu, dan aku, dengan kebiasaan burukku yang tak termaafkan, benar-benar lupa bahwa aku punya pacar. Lupa, tanpa alasan yang bisa kubenarkan.

Sampai suatu hari, kami bertemu lagi. Wajahnya penuh amarah yang bercampur luka, dan matanya basah oleh air mata. “Sebenarnya kamu anggap aku pacarmu atau bukan?” tanyanya, suaranya bergetar. Aku hanya diam, terlalu bingung untuk merangkai kata-kata yang pantas. Penyesalan datang terlambat, seperti biasa.

Aku sering berkata pada diriku sendiri bahwa aku ingin menjadi lebih baik, bahwa aku tidak ingin terus mengulang kesalahan yang sama. Tapi entah kenapa, aku selalu kembali ke titik awal, seperti berjalan dalam lingkaran yang tak pernah selesai.

Mungkin semuanya dimulai ketika aku remaja. Saat itu, aku adalah orang yang terlalu mudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Masalahnya, aku tidak pernah punya keberanian untuk bertindak. Dunia belum dipisahkan oleh perangkat pintar kala itu, dan jika kau ingin mengenal seseorang, kau harus menyapanya langsung. Tetapi aku, seperti biasa, hanya berdiri di kejauhan, terlalu sibuk dengan pikiran dan keraguan sendiri.

Teman baikku waktu itu berbeda. Dia seorang Donjuan kampung, penuh percaya diri dan tanpa beban. Dengan senyum santainya, dia selalu berhasil menyapa lebih dulu, membuatku hanya bisa mendengus frustrasi. “Sialan,” pikirku .

Sejak saat itu, aku berjanji untuk berubah. Aku mulai memaksa diri menyapa mereka yang membuatku tertarik, meski sering kali aku merasa bodoh melakukannya. Ada keberhasilan kecil, ada kegagalan besar, tetapi itu semacam latihan untuk menghindari penyesalan.

Namun, dua puluh empat tahun kemudian, aku masih mendapati diriku sesekali tersandung di tempat yang sama. Kadang aku terlalu ragu, terlalu lambat, dan akhirnya kehilangan lagi.

Kehilangan, bagiku, adalah teman lama yang selalu datang tanpa diundang. Tapi yang benar-benar menyakitkan bukan kehilangannya itu sendiri, melainkan penyesalan yang mengikuti di belakangnya, seperti bayangan yang tak pernah bisa kutinggalkan.

Kini, setiap kali aku merasakan kehilangan, aku bertanya-tanya: apakah aku memang ditakdirkan untuk ini? Ataukah aku hanya terlalu keras kepala untuk belajar dari masa lalu?

Photo by cottonbro studio: https://www.pexels.com/photo/close-up-of-flowers-on-a-grave-10499692/


You Might Also Like

0 komentar