Ini Kisahku - Aku dan Malam-malamku
22.39Malam menggantung rendah di atas Karawang, sebuah kota industri yang semakin asing bagi warganya sendiri. Gemuruh truk pengangkut material terdengar samar dari jalan raya besar, bercampur dengan suara pendingin ruangan dan gemerlap lampu reklame yang tak pernah mati. Di salah satu kawasan hiburan yang tumbuh liar di pinggiran kawasan industri, berdirilah sebuah bangunan dengan lampu-lampu violet, pintu tebal, dan musik yang tak pernah benar-benar menghibur siapa pun. Tempat semacam itu tidak dibangun untuk bahagia—melainkan untuk membiarkan orang-orang menunda rasa sepi.
Di ruangan VIP paling belakang, duduk seorang lelaki tiga puluh empat tahun, mengenakan jas lusuh yang entah sudah berapa hari tidak disetrika. Jas itu dulunya dibeli untuk acara tender proyek di Pemda, tapi kini lebih sering dipakai duduk diam di ruangan remang-remang seperti ini. Dia bukan direktur, bukan pengusaha besar, bukan pula kontraktor licin yang bisa menyogok semua orang. Dia hanya kontraktor kecil dari Karawang, hidup dari proyek-proyek pinggiran, berutang di toko bangunan, dan menggaji buruh harian yang kadang dibayarnya terlambat. Gelas whisky di hadapannya belum disentuh. Kepalanya sedikit menunduk, seperti tak ada lagi yang perlu ditatap di dunia ini selain bayangan dirinya sendiri yang tenggelam di dasar gelas.
Pintu diketuk. Seorang manajer masuk dengan raut wajah yang sudah terlalu sering menyaksikan lelaki seperti dia datang dan pergi tanpa arah.
“Bang, ladies-nya mau kontes dulu atau udah ada pilihan?” tanyanya dengan nada sopan yang terasa dihafal. Lelaki itu mengangguk pelan.
“Kontes saja.” Sang manajer mengangguk dan segera keluar.
Hening kembali mengisi ruangan. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan pikirannya melayang ke pertemuan dengan rekan tender yang penuh tipu daya, ke surat penawaran yang ditolak, ke hutang material yang makin menumpuk. Ia tahu malam ini bukan solusi, hanya jeda. Tapi kadang yang dibutuhkan manusia bukan penyelesaian, melainkan sedikit ruang untuk bernapas tanpa harus menjelaskan diri.
Sepuluh menit kemudian, pintu terbuka lagi. Suara hak tinggi berdenting pelan di atas lantai marmer. Sang manajer masuk, kali ini membawa rombongan perempuan muda, semuanya mengenakan gaun hitam ketat yang menyempit di lekuk tubuh mereka, menciptakan kontras mencolok dengan kulit mereka yang cerah, bersih, dan bersinar lembut di bawah lampu gantung kuning pucat.
Wewangian mahal menyeruak ke udara, campur dengan aroma minuman dan parfum klub malam yang terlalu dikenal lelaki itu. Seolah mereka adalah barisan bidadari yang dikirim bukan dari surga, tapi dari wilayah antara keinginan dan kesepian. “Silakan, Bang. Dipilih sesuai selera,” kata sang manajer sambil berdiri di sisi pintu, setengah mundur.
Pandangan lelaki itu melintasi mereka satu per satu. Senyum-senyum yang dipelajari, cara berdiri yang dilatih, semua tampak seperti parade ilusi yang dibuat untuk menghibur lelaki-lelaki yang kehabisan arah. Tapi matanya tak berhenti di tengah barisan. Ia menemukan seseorang—seorang gadis mungil di ujung. Tak banyak polesan di wajahnya, tak banyak gerak tubuh menggoda. Hanya pandangan lurus, senyum tipis yang entah tulus atau letih, dan tangan kecil yang membetulkan helai rambut yang terselip di telinga. Gerakan kecil itu cukup untuk mengguncang sesuatu yang telah lama dibekukan dalam dirinya. Sebuah nama berkelebat: Lidya. Cinta pertama, gadis remaja di masa lalu yang hilang tanpa sempat dijelaskan. Tapi ia tahu gadis ini bukan Lidya. Ia tahu benar. Namun kenangan, sekali dibuka, jarang bisa ditutup kembali dengan rapi.
“Aku pilih dia,” ucapnya, nyaris tanpa suara, tapi cukup jelas untuk dimengerti.
Sang gadis melangkah perlahan ke arahnya. Langkahnya tenang, tidak ragu, seolah tahu betul bahwa dirinya dipilih bukan karena tubuh, tapi karena sesuatu yang lebih tua dari malam ini. “Nama aku Rara Putri,” ucapnya, sambil mengulurkan tangan. Lelaki itu menyambutnya, ragu tapi hangat. Dalam genggaman tangan mungil itu, ia merasa sesuatu merayap dari balik dadanya—bukan gairah, tapi seperti luka lama yang diberi nama baru.
Mereka duduk berdampingan. Rara memilih sisi kanan, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membiarkan keheningan di antara mereka mengendap. Ia menoleh. “Abang kelihatan capek.” Suaranya tenang, tanpa rayu. Seperti air hangat yang dituangkan ke luka menganga. Lelaki itu meneguk whisky, menghela napas.
Mereka duduk berdampingan. Rara memilih sisi kanan, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membiarkan keheningan di antara mereka mengendap. Ia menoleh. “Abang kelihatan capek.” Suaranya tenang, tanpa rayu. Seperti air hangat yang dituangkan ke luka menganga. Lelaki itu meneguk whisky, menghela napas.
“Capek hidup.”
Rara tak tertawa. Ia tidak menyela. Ia bersandar pelan di bahunya, tanpa aba-aba. Wangi sabun dari kulitnya menyeruak halus. Gerakannya tidak dibuat-buat. Ia hanya hadir—dengan tenang, tanpa pertanyaan, tanpa pretensi. Lelaki itu menoleh pelan. “Aku pernah punya seseorang... mirip kamu,” bisiknya. “Tapi sudah hilang. Atau mungkin aku yang melepaskan.” Rara menatapnya, dalam dan pelan, seolah mempelajari patahan-patahan dalam matanya. “Mau cerita?” bisiknya. Lelaki itu menggeleng. “Nggak perlu. Duduk di sini aja udah cukup.”
Dan malam itu, di tengah deru kota industri, dua orang yang sama-sama lelah duduk diam di ruang sepi. Tidak untuk saling mengisi. Tapi sekadar untuk tidak merasa kosong sendirian.
Rara tak tertawa. Ia tidak menyela. Ia bersandar pelan di bahunya, tanpa aba-aba. Wangi sabun dari kulitnya menyeruak halus. Gerakannya tidak dibuat-buat. Ia hanya hadir—dengan tenang, tanpa pertanyaan, tanpa pretensi. Lelaki itu menoleh pelan. “Aku pernah punya seseorang... mirip kamu,” bisiknya. “Tapi sudah hilang. Atau mungkin aku yang melepaskan.” Rara menatapnya, dalam dan pelan, seolah mempelajari patahan-patahan dalam matanya. “Mau cerita?” bisiknya. Lelaki itu menggeleng. “Nggak perlu. Duduk di sini aja udah cukup.”
Dan malam itu, di tengah deru kota industri, dua orang yang sama-sama lelah duduk diam di ruang sepi. Tidak untuk saling mengisi. Tapi sekadar untuk tidak merasa kosong sendirian.
***
Hujan turun sejak siang. Bukan hujan deras yang menghantam kaca dan membuat orang-orang berlari mencari tempat berteduh, tapi rinai pelan yang seperti berbisik-bisik pada bumi, mengendap dan mengajak diam. Karawang di musim hujan tak banyak berubah: langitnya muram, jalannya becek, dan lalu lintasnya tetap tak sabar. Tapi di sudut kota, di sebuah kedai kopi kecil yang tak pernah benar-benar penuh sejak pandemi mereda, aku duduk sendiri. Meja bundar dari kayu jati masih mengilap, bangku rotan sedikit berderit saat ditarik, dan aroma kopi hitam menyambut dari balik dapur kecil yang diselimuti uap.
Sudah lama aku tidak ke sini. Terakhir mungkin saat pekerjaan proyek pelebaran jalan selesai, dan aku sempatkan duduk sejenak sebelum pulang ke rumah yang terlalu sepi. Tapi hari ini, entah kenapa, aku kembali. Mungkin karena hujan. Mungkin karena ada ruang kosong di dadaku yang ingin diisi tanpa harus dijelaskan.
Sore itu, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk. Dari nama yang sudah lama diam.
“Abang sehat, kan?”
Hanya tiga kata. Tapi cukup untuk mengguncang apa yang selama ini kuanggap sudah reda. Aku mematung sejenak. Tak tahu harus membalas atau tidak. Tapi seperti biasanya, aku hanya menatap layar beberapa detik, lalu mengunci ponsel. Bukan karena aku marah. Tapi karena aku takut. Takut jika satu pesan itu akan membuka pintu yang sudah kupaku rapat.
Namanya masih sama: Rara Putri. Gadis Bandung yang dulu kupilih dari ujung barisan di sebuah tempat hiburan malam di Karawang. Ia bukan siapa-siapa dalam hidupku secara formal. Kami tak pernah jadian, tak pernah punya tanggal, tak pernah punya alasan. Tapi sejak malam itu, ada sesuatu yang tertinggal. Seperti aroma tubuh yang tidak bisa hilang dari jaket, atau lagu lama yang terus terngiang bahkan setelah dimatikan.
Waktu berjalan. Kami sempat bertemu beberapa kali. Bicara tentang hidup, pekerjaan, dan luka yang kami bagi tanpa harus dijelaskan panjang lebar. Tapi hidup tak pernah benar-benar memberi waktu untuk hal-hal yang tak punya nama. Dan entah sejak kapan, kami berhenti saling kabar. Mungkin karena sibuk. Mungkin karena takut berharap. Atau mungkin karena kami sama-sama tahu: hubungan yang tidak pernah diberi tempat, biasanya akan tersesat sendiri.
Aku menyesap kopi. Pahit. Tapi jujur. Persis seperti apa yang kupikirkan tentang dia. Rara bukan perempuan yang mencoba memikat. Ia tidak manis, tidak cerewet, tidak meminta lebih. Tapi justru itu yang membuatnya sulit kulupakan. Ia hadir seperti hujan sore ini: tenang, pelan, dan menyelinap masuk tanpa permisi.
Tak lama setelah pesan itu, kami bertemu lagi. Tempatnya tidak mewah—masih di Karawang, masih di kedai yang sama. Aku datang lima belas menit terlambat, seperti biasa. Tapi ia sudah duduk di pojok, mengenakan kemeja putih longgar yang digulung hingga siku, memperlihatkan tato kecil di lengannya yang masih sama seperti dulu. Di depannya ada lemon water dan sebatang rokok yang setengah habis. Ia tidak melihatku saat aku masuk, tapi aku tahu ia tahu aku datang.
“Masih suka telat,” katanya pelan saat aku duduk.
Aku tertawa kecil. “Dan kamu masih suka duduk sendirian sambil pura-pura sibuk dengan ponsel.”
Ia menoleh. Senyum tipisnya muncul. Senyum yang tidak pernah benar-benar meyakinkan, tapi selalu kurindukan. Kami tidak bicara banyak. Tidak ada tanya, tidak ada marah, tidak ada penjelasan. Hanya obrolan ringan yang tak mengorek luka, dan beberapa detik hening yang tidak terasa canggung.
“Aku lihat kamu makin tenang sekarang,” kataku akhirnya.
Ia menghembuskan asap rokok, menatap langit-langit kedai yang lembap. “Tenang itu bukan berarti sembuh, Bang. Cuma udah nggak terlalu peduli.”
Aku mengangguk pelan. Menerima tanpa mengomentari. Di luar, hujan masih turun, menempel di kaca jendela seperti jejak-jejak kenangan yang tak bisa diseka bersih. Kami duduk lama tanpa arah, membiarkan waktu berjalan sendiri, tanpa target, tanpa rencana. Dan saat aku menatap wajahnya, aku sadar... aku belum pernah benar-benar tahu Rara. Tapi entah kenapa, aku selalu ingin kembali padanya.
***
Setahun berlalu sejak hari ketika Rara bersandar di pundakku di Kafe tempt terakhir kami bertemu. Waktu bergerak pelan tapi pasti, mengikis jarak tanpa kita sadari. aku disbibukkan oleh pekerjaan yang waktu itu cukup menguras waktu dan pikiran. Hidupku seperti menemukan jalannya sendiri—rapi, tertata, tapi tetap terasa kosong di satu sisi yang tidak pernah benar-benar bisa kuisi. Di sudut ruangan tempat dulu ia duduk bersamaku, aku sengaja tidak menaruh apa pun. Tidak ada meja, tidak ada vas bunga, tidak ada kursi tunggu. Hanya dinding kosong yang memantulkan suara langkah dan diam.
Rara kembali ke Bandung beberapa bulan setelah pertemuan kami di di Kafe. Katanya kontrak kerjanya selesai. Katanya ingin dekat dengan ibunya lagi. Tidak ada tangis, tidak ada pertengkaran, bahkan tidak ada kata pamit yang layak dicatat. Kami hanya berhenti. Begitu saja. Awalnya masih ada kabar, masih ada emoji singkat di WhatsApp, masih ada foto kopi yang ia kirim saat hujan turun di Braga atau Dago. Lalu semua itu perlahan menipis, menghilang, dan menjadi jeda yang terlalu panjang untuk disebut perhatian.
Lama-lama aku mulai terbiasa dengan diamnya. Tapi bukan berarti aku tak menunggu.
Suatu malam, ketika hujan turun deras dan listrik sempat padam di kantorku, ponselku bergetar. Panggilan masuk. Nama itu muncul. Rara Putri.
Kupandangi layar ponsel dalam gelap. Sekilas aku ragu, jantungku tidak berdebar, tapi dadaku terasa sesak. Sudah lama aku tidak mendengar suara itu. Entah kenapa malam itu aku angkat. Tidak ada pembuka, tidak ada basa-basi. Suaranya masih sama: datar, pelan, tapi tak kehilangan cara untuk menancap pelan-pelan di dada.
“Hallo, Bang…”
Aku mengangguk, lupa menjawab. Kami bicara beberapa menit. Tentang cuaca, tentang pekerjaan, tentang hal-hal remeh yang tidak perlu dijelaskan tapi juga tidak bisa sepenuhnya diabaikan. Aku lupa apa saja yang kami katakan. Mungkin karena tidak penting. Atau mungkin karena sesuatu yang penting justru tersembunyi di balik yang tidak dikatakan.
Yang masih kuingat hanyalah satu kalimatnya. Kalimat yang datang setelah jeda panjang, saat kami kehabisan topik dan hanya mendengarkan suara masing-masing bernapas.
“Kamu... nganggep aku pacarmu, bukan?”
Kalimat itu datang seperti kabut. Tidak keras, tapi menutup pandangan. Membekukan waktu. Membawa kembali suara lain dari masa yang lebih jauh—suara Lidya, gadis remaja yang dulu memelukku di sore hujan dan menatapku dengan mata penuh luka. Ia juga pernah bertanya hal yang sama. Dan aku juga tidak pernah menjawab.
Malam itu, bersama Rara, aku kembali diam.
Bukan karena tidak tahu jawabannya. Tapi karena aku sadar: dari semua hal yang membuatku kehilangan orang-orang yang pernah dekat, jawabanku selalu datang terlambat. Atau tidak pernah datang sama sekali.
Dan diamku malam itu adalah pintu terakhir yang tidak aku buka. Mungkin karena takut. Mungkin karena tahu, bahwa setiap kalimat yang tak kujawab… akan berbalik menjadi bayangan yang menolak pergi.
Panggilan itu akhirnya berakhir tanpa kesimpulan. Tanpa janji. Tanpa selamat tinggal. Tapi sejak malam itu, namanya tak pernah muncul lagi di layar ponselku.
Tiga tahun berlalu sejak malam itu. Sejak pertanyaan itu muncul di antara napas yang saling diam. Sejak aku memilih untuk tidak menjawab. Hidupku berjalan seperti biasanya—pelan, berulang, dan kadang terasa seperti meniru dirinya sendiri. Proyek datang dan pergi, rekan kerja silih berganti, kantor mulai sibuk seperti kantor pada umumnya. Tapi sesuatu dalam diriku tak pernah benar-benar kembali seperti semula. Seperti pintu yang tertutup tanpa dikunci, tapi tak pernah lagi dibuka.
Pada suatu akhir pekan yang tak direncanakan, aku mendapat undangan dari vendor konstruksi untuk hadir ke sebuah acara evaluasi proyek di Bandung. Acaranya di Braga, kawasan tua yang selalu berhasil menyisakan rasa sepi meski ramai oleh lampu dan manusia. Aku berjalan di antara deret bangunan lawas dan aroma kopi dari café yang entah berapa kali berganti nama. Langit mendung sore itu menambah suasana yang asing tapi akrab. Langkahku berat bukan karena cuaca, tapi karena aku tahu: tempat ini adalah kota asal seseorang yang pernah duduk diam bersamaku dalam ruang yang kosong—dan juga dalam ruang yang lebih kosong lagi, yaitu dadaku sendiri.
Entah kekonyolan apa yang membuatku melakukannya. Saat duduk sendiri di café kecil yang menjual kopi pahit dengan harga mahal, aku membuka ponsel dan menulis pesan:
“Besok aku ke Bandung.”
Kukirim begitu saja. Satu kalimat. Tidak ada ajakan, tidak ada penjelasan, bahkan tidak ada harapan. Tapi beberapa detik kemudian, aku menyesal. Bukan karena mengirimnya, tapi karena tahu bahwa tidak semua pesan pantas untuk dikirim setelah diam selama bertahun-tahun. Seperti kalimat yang datang terlambat dalam debat. Seperti permintaan maaf yang datang setelah luka berubah jadi jaringan mati.
Aku ingin menarik pesan itu. Tapi seperti hidup, tidak semua hal bisa kita tarik kembali. Tak semua kata bisa dibatalkan setelah ia dikirim. Dan pesan itu pun menggantung… seperti jemuran di musim hujan, basah dan enggan kering.
Malam menjelang. Braga semakin ramai. Tapi ponselku tetap sunyi. Aku menunduk, menyeruput kopi yang kini sudah dingin, dan mencoba meyakinkan diri bahwa tidak mendapat balasan adalah bentuk keadilan yang paling sederhana dalam hubungan manusia.
Tapi saat dini hari tiba, dan aku sudah kembali ke kamar hotel sempit yang kupesan di jalan Cihampelas, ponselku akhirnya berbunyi.
Satu pesan masuk. Nama itu muncul lagi. Masih tersimpan di daftar kontak, meski sudah lama tak kupanggil.
"Untuk apa lagi kamu hubungi aku."
Begitu singkat. Begitu jujur. Tak ada emosi berlebihan, tak ada sumpah serapah, tak ada nostalgia yang dibuat-buat. Hanya satu kalimat yang menghantam tepat di tempat yang tak pernah sembuh.
Aku membaca ulang pesannya beberapa kali. Ada beberapa balasan lain setelah itu. Tapi aku lupa. Atau mungkin tidak ingin ingat. Atau bisa jadi… terlalu sakit hingga otakku memutuskan untuk menghapusnya sendiri, seperti luka yang disimpan di balik baju kerja.
Yang tertinggal hanyalah rasa pahit.
Bukan karena ia marah. Tapi karena ia berhak. Karena selama ini, aku selalu datang bukan ketika ia butuh, tapi ketika aku sendiri merasa sepi. Karena selama ini, aku selalu terlalu lambat. Selalu terlalu takut.
Dan aku bertanya pada diriku sendiri, seperti seorang anak kecil yang tak pernah lulus dari pelajaran yang sama:
Kenapa setiap kisahku selalu berakhir begini?
Kenapa selalu ada luka yang tak sempat dijahit?
Kenapa cinta, yang katanya lembut dan hangat, selalu terasa seperti jalan panjang yang ujungnya dingin dan sunyi?
Dan kenapa, entah sudah keberapa kalinya, aku merasa kalah—bukan karena ditolak, tapi karena aku gagal memperjuangkan.
Karena aku lebih memilih diam daripada jujur.
Karena aku lebih nyaman dalam penyesalan daripada keberanian.
Mungkin... memang bukan kisah cinta.
Mungkin ini hanya catatan dari seorang lelaki yang selalu datang terlambat.
Rara kembali ke Bandung beberapa bulan setelah pertemuan kami di di Kafe. Katanya kontrak kerjanya selesai. Katanya ingin dekat dengan ibunya lagi. Tidak ada tangis, tidak ada pertengkaran, bahkan tidak ada kata pamit yang layak dicatat. Kami hanya berhenti. Begitu saja. Awalnya masih ada kabar, masih ada emoji singkat di WhatsApp, masih ada foto kopi yang ia kirim saat hujan turun di Braga atau Dago. Lalu semua itu perlahan menipis, menghilang, dan menjadi jeda yang terlalu panjang untuk disebut perhatian.
Lama-lama aku mulai terbiasa dengan diamnya. Tapi bukan berarti aku tak menunggu.
Suatu malam, ketika hujan turun deras dan listrik sempat padam di kantorku, ponselku bergetar. Panggilan masuk. Nama itu muncul. Rara Putri.
Kupandangi layar ponsel dalam gelap. Sekilas aku ragu, jantungku tidak berdebar, tapi dadaku terasa sesak. Sudah lama aku tidak mendengar suara itu. Entah kenapa malam itu aku angkat. Tidak ada pembuka, tidak ada basa-basi. Suaranya masih sama: datar, pelan, tapi tak kehilangan cara untuk menancap pelan-pelan di dada.
“Hallo, Bang…”
Aku mengangguk, lupa menjawab. Kami bicara beberapa menit. Tentang cuaca, tentang pekerjaan, tentang hal-hal remeh yang tidak perlu dijelaskan tapi juga tidak bisa sepenuhnya diabaikan. Aku lupa apa saja yang kami katakan. Mungkin karena tidak penting. Atau mungkin karena sesuatu yang penting justru tersembunyi di balik yang tidak dikatakan.
Yang masih kuingat hanyalah satu kalimatnya. Kalimat yang datang setelah jeda panjang, saat kami kehabisan topik dan hanya mendengarkan suara masing-masing bernapas.
“Kamu... nganggep aku pacarmu, bukan?”
Kalimat itu datang seperti kabut. Tidak keras, tapi menutup pandangan. Membekukan waktu. Membawa kembali suara lain dari masa yang lebih jauh—suara Lidya, gadis remaja yang dulu memelukku di sore hujan dan menatapku dengan mata penuh luka. Ia juga pernah bertanya hal yang sama. Dan aku juga tidak pernah menjawab.
Malam itu, bersama Rara, aku kembali diam.
Bukan karena tidak tahu jawabannya. Tapi karena aku sadar: dari semua hal yang membuatku kehilangan orang-orang yang pernah dekat, jawabanku selalu datang terlambat. Atau tidak pernah datang sama sekali.
Dan diamku malam itu adalah pintu terakhir yang tidak aku buka. Mungkin karena takut. Mungkin karena tahu, bahwa setiap kalimat yang tak kujawab… akan berbalik menjadi bayangan yang menolak pergi.
Panggilan itu akhirnya berakhir tanpa kesimpulan. Tanpa janji. Tanpa selamat tinggal. Tapi sejak malam itu, namanya tak pernah muncul lagi di layar ponselku.
***
Tiga tahun berlalu sejak malam itu. Sejak pertanyaan itu muncul di antara napas yang saling diam. Sejak aku memilih untuk tidak menjawab. Hidupku berjalan seperti biasanya—pelan, berulang, dan kadang terasa seperti meniru dirinya sendiri. Proyek datang dan pergi, rekan kerja silih berganti, kantor mulai sibuk seperti kantor pada umumnya. Tapi sesuatu dalam diriku tak pernah benar-benar kembali seperti semula. Seperti pintu yang tertutup tanpa dikunci, tapi tak pernah lagi dibuka.
Pada suatu akhir pekan yang tak direncanakan, aku mendapat undangan dari vendor konstruksi untuk hadir ke sebuah acara evaluasi proyek di Bandung. Acaranya di Braga, kawasan tua yang selalu berhasil menyisakan rasa sepi meski ramai oleh lampu dan manusia. Aku berjalan di antara deret bangunan lawas dan aroma kopi dari café yang entah berapa kali berganti nama. Langit mendung sore itu menambah suasana yang asing tapi akrab. Langkahku berat bukan karena cuaca, tapi karena aku tahu: tempat ini adalah kota asal seseorang yang pernah duduk diam bersamaku dalam ruang yang kosong—dan juga dalam ruang yang lebih kosong lagi, yaitu dadaku sendiri.
Entah kekonyolan apa yang membuatku melakukannya. Saat duduk sendiri di café kecil yang menjual kopi pahit dengan harga mahal, aku membuka ponsel dan menulis pesan:
“Besok aku ke Bandung.”
Kukirim begitu saja. Satu kalimat. Tidak ada ajakan, tidak ada penjelasan, bahkan tidak ada harapan. Tapi beberapa detik kemudian, aku menyesal. Bukan karena mengirimnya, tapi karena tahu bahwa tidak semua pesan pantas untuk dikirim setelah diam selama bertahun-tahun. Seperti kalimat yang datang terlambat dalam debat. Seperti permintaan maaf yang datang setelah luka berubah jadi jaringan mati.
Aku ingin menarik pesan itu. Tapi seperti hidup, tidak semua hal bisa kita tarik kembali. Tak semua kata bisa dibatalkan setelah ia dikirim. Dan pesan itu pun menggantung… seperti jemuran di musim hujan, basah dan enggan kering.
Malam menjelang. Braga semakin ramai. Tapi ponselku tetap sunyi. Aku menunduk, menyeruput kopi yang kini sudah dingin, dan mencoba meyakinkan diri bahwa tidak mendapat balasan adalah bentuk keadilan yang paling sederhana dalam hubungan manusia.
Tapi saat dini hari tiba, dan aku sudah kembali ke kamar hotel sempit yang kupesan di jalan Cihampelas, ponselku akhirnya berbunyi.
Satu pesan masuk. Nama itu muncul lagi. Masih tersimpan di daftar kontak, meski sudah lama tak kupanggil.
"Untuk apa lagi kamu hubungi aku."
Begitu singkat. Begitu jujur. Tak ada emosi berlebihan, tak ada sumpah serapah, tak ada nostalgia yang dibuat-buat. Hanya satu kalimat yang menghantam tepat di tempat yang tak pernah sembuh.
Aku membaca ulang pesannya beberapa kali. Ada beberapa balasan lain setelah itu. Tapi aku lupa. Atau mungkin tidak ingin ingat. Atau bisa jadi… terlalu sakit hingga otakku memutuskan untuk menghapusnya sendiri, seperti luka yang disimpan di balik baju kerja.
Yang tertinggal hanyalah rasa pahit.
Bukan karena ia marah. Tapi karena ia berhak. Karena selama ini, aku selalu datang bukan ketika ia butuh, tapi ketika aku sendiri merasa sepi. Karena selama ini, aku selalu terlalu lambat. Selalu terlalu takut.
Dan aku bertanya pada diriku sendiri, seperti seorang anak kecil yang tak pernah lulus dari pelajaran yang sama:
Kenapa setiap kisahku selalu berakhir begini?
Kenapa selalu ada luka yang tak sempat dijahit?
Kenapa cinta, yang katanya lembut dan hangat, selalu terasa seperti jalan panjang yang ujungnya dingin dan sunyi?
Dan kenapa, entah sudah keberapa kalinya, aku merasa kalah—bukan karena ditolak, tapi karena aku gagal memperjuangkan.
Karena aku lebih memilih diam daripada jujur.
Karena aku lebih nyaman dalam penyesalan daripada keberanian.
Mungkin... memang bukan kisah cinta.
Mungkin ini hanya catatan dari seorang lelaki yang selalu datang terlambat.
***
Rara,
Kalau surat ini sampai padamu, itu artinya aku telah gagal lagi menjaga jarak. Tapi jika tidak, maka biarlah ini menjadi milikku saja—seperti kenangan-kenangan yang tak pernah bisa kubagikan pada siapa pun, termasuk kamu.
Aku tidak menulis ini untuk meminta maaf. Karena bahkan kata maaf terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan diamku yang bertahun-tahun. Dan aku tahu, tak ada satu pun kalimat yang bisa benar-benar menjelaskan mengapa seseorang bisa menyakiti orang lain tanpa sengaja. Aku hanya ingin kamu tahu, aku ingat. Segalanya.
Aku ingat malam itu, saat kau membetulkan helai rambutmu yang menyelinap ke telinga, dan tiba-tiba dunia di sekitarku berhenti. Aku ingat ketika kau bersandar di bahuku di lantai kantor yang masih kosong, dan tubuhmu gemetar sedikit karena udara dingin. Aku juga ingat betapa heningnya kita waktu itu—bukan karena tidak ada yang ingin dibicarakan, tapi karena kita sama-sama tahu, kata-kata bisa merusak sesuatu yang sudah sangat rapuh. Dan aku tetap diam.
Aku ingat setiap kali kamu menahan pertanyaan, padahal kamu ingin tahu: apa aku benar-benar menganggapmu ada? Tapi aku terlalu pengecut untuk menjawab. Terlalu sibuk membangun ruang aman dalam pikiranku sendiri. Terlalu sibuk menimbang mana yang ‘layak’ dicintai, dan mana yang hanya boleh ditemani sementara.
Padahal yang sesungguhnya aku butuhkan adalah seseorang yang bisa duduk diam bersamaku, tanpa pretensi. Dan kamu... kamu sudah melakukannya, bahkan saat aku belum tahu cara menerima kasih tanpa rasa takut.
Sekarang semuanya sudah terlambat. Kamu sudah kembali ke Bandung, dan aku hanya sesekali ke sana—seperti pengunjung musiman yang tidak lagi ditunggu. Terakhir aku coba menghubungimu, dan kamu menjawab dengan jujur: “Untuk apa lagi kamu hubungi aku.” Kalimat itu menghantam, bukan karena kasar, tapi karena tepat. Kamu tidak marah, kamu hanya lelah. Dan aku—seperti biasa—terlambat memahami.
Rara,
Kalau dunia ini punya cara mempertemukan dua orang yang salah waktu tapi tepat rasa, mungkin kita adalah contohnya. Dan jika hidup ini memang tidak harus selalu berakhir bahagia, setidaknya aku ingin percaya bahwa pernah ada saat di mana kita saling menemani, bukan untuk saling miliki, tapi sekadar agar tidak merasa sendirian di tengah kota yang terlalu dingin bagi dua orang asing.
Kalau suatu hari kamu membaca ini, jangan jawab.
Biarlah aku tetap menjadi lelaki yang kamu kenal: terlalu banyak menunda, terlalu sedikit berani, terlalu lambat mencintai.
Tapi tahu satu hal...
Di antara semua yang tak sempat kuperjuangkan, kamu adalah yang paling sering aku sesali.
Selamat tinggal, Rara.
Atau jika lebih tepat: selamat tinggal, diriku yang dulu ada saat bersamamu.
—
Kontraktor kecil dari Karawang, yang tak pernah belajar menjawab tepat waktu.
0 komentar